Enggak Nyangka, Indonesia Kalah dari Peru Soal Ini

VIVA â€“ Berdasarkan data dari situs Blockchain.com bahwa jumlah pengguna aset kripto di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 12,6 persen pada Juli 2020. Hal ini membuat Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai negara dengan peningkatan terbesar untuk pengguna aset kripto di bawah Peru dan India.

Kepopuleran aset kripto di berbagai negara terus meningkat, tak terkecuali Indonesia. Salah satunya Bitcoin. Apalagi harganya yang semakin tinggi membuatnya digadang-gadang menjadi alternatif instrumen investasi.

Nah, untuk mendapatkan aset kripto seperti Bitcoin di Indonesia kini tidak sulit. Karena, sudah banyak bursa yang menyediakan layanan jual beli aset digital tersebut.

Baca: Biar Enggak Tersesat, Aset Kripto adalah Komoditi Bukan Alat Transaksi

Salah satunya Remitano, melalui layanan peer to peer (P2P) exchange. Layanan ini merupakan bursa aset digital yang diibaratkan seperti marketplace yang biasa kita temui sehari-hari, di mana bursa ini akan mempertemukan penjual dan pembeli aset kripto secara langsung melalui platform tanpa harus mengikuti harga pasar.

Co-founder Remitano, Dung Huynh, mengaku telah menyediakan layanan jual beli aset kripto di 30 negara, di mana Malaysia, Vietnam, dan Nigeria menjadi tiga negara dengan jual beli aset kripto terbesar, dengan jumlah pengguna lebih dari 1,5 juta nasabah.

“Beberapa negara lainnya yang didukung platform Remitano termasuk Kamboja, Ghana, India, Kenya, Singapura, Afrika Selatan, Tanzania, dan Amerika Serikat,” kata dia, Sabtu, 22 Agustus 2020.

Setelah sukses di banyak negara, kini Remitano hadir di pasar aset digital Indonesia. Menurut Dung, supaya memudahkan proses transaksi pengguna, Remitano sudah menyediakan layanan deposit dan withdrawal dengan menggunakan Rupiah.

Hal ini akan membuat pengguna bisa mengirimkan dana untuk jual beli dan mencarikan aset kripto secara langsung menjadi mata uang Rupiah dengan metode bank transfer yang mudah dan cepat.

Selain itu juga dalam transaksi ini tidak dikenakan biaya tambahan tapi hanya diberikan biaya dari bank yang digunakan oleh pengguna.

Kendati sistem yang diusung Remitano masing cukup awam di Indonesia, namun Dung menjamin keamanan para penggunanya.

Salah satunya melalui layanan escrow yang berfungsi untuk menyimpan dana dari transaksi yang belum tuntas. “Layanan ini juga berperan untuk meminimalisir kesalahpahaman antar penjual dan pembeli aset kripto,” jelas dia.