COVID-19 Belum Padam, Mitra Gojek Pusing Otak untuk Bertahan

VIVA   –  Virus Corona COVID-19 telah mempengaruhi segenap industri, termasuk ekosistem yang tersedia di Gojek. Hampir semua pacar pengemudi atau driver mengalami kemerosotan transaksi, bahkan untuk sektor cara mikro, kecil dan menengah (UMKM) persentase penurunannya hingga 85 upah.

Menurut Peneliti Institusi Demografi Universitas Indonesia, Alfindra Primaldhi, pandemi membuat UMKM mengalami pengganggu produksi, di mana masalah utamanya terletak pada peningkatan harga 1 baku. Mereka juga mengaku mengalami penurunan pelanggan.

“Kondisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga berdampak pada proses pemasaran. Karena tidak ada kepastian akhir dari PSBB, pembatasan jam operasional dan tidak menerima pelanggan dalam tempat, ” kata Alfindra, menggunakan konferensi pers virtual, Senin, 3 Agustus 2020.

Setengah dari mitra hangat yang bergabung sama Gofood ialah ibu rumah tangga dan pekerja swasta. Menurutnya, pandemi menjadi bukti utama masyarakat memulai bisnis.

Sebesar 71 persen mitra baru Gofood bergabung karena pandemi. “Selama pandemi, mitra menerima beraneka macam bantuan sosial dari ekosistem Gojek. Sebanyak 41 persen juga mengaku merasa diperlakukan lebih baik sebab pelanggan, ” tutur dia.

Mayoritas mitra Gofood pula ditemukan memberikan bantuan sosial dengan rincian 44 persen kepada pengemudi ojek online dan 31 obat jerih orang-orang yang ada di tepi jalan. Artinya, ada perilaku gotong-royong dalam ekosistem Gojek.

Alfindra menambahkan jika studi yang mereka lakukan menunjukkan ekosistem Gojek berupaya keras menetap di tengah pandemi. UMKM menjelma yang terdampak cukup berat, namun mereka tidak membiarkan dirinya terleka.

“Semua unsur silih membantu untuk dapat bertahan. Tak ada kewajiban mitra saling menolong mitra lainnya. Tapi mereka dengan sukarela saling tolong-menolong, ” paparnya.