Teknologi Ini Bisa Tahu Wajah Karakter Meski Tertutup Rapat

VIVA   –  Memasuki era new normal atau kenormalan baru menggunakan masker paras adalah keharusan bagi semua orang. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (the US Centers for Disease Control and Prevention) telah merekomendasikan agar semua orang memakai masker wajah sebagai arah dari memerangi penyebaran wabah COVID-19.

Seperti dikutip daripada situs CNET , Senin, 8 Juni 2020, pandemi yang disebabkan oleh Virus Corona itu telah menewaskan lebih sebab 397 ribu orang di seluruh dunia. Bahkan, baru-baru ini, Badan Kesehatan Dunia atau WHO selalu mengubah pedoman dan merekomendasikan penerapan masker wajah yang lebih luas.

Salah satunya memajukan pemerintah agar warganya memakai kedok wajah di mana ada penyebaran luas dan jarak fisik yang sulit. Berdasarkan penelitian dan fakta terbaru, WHO juga menyarankan bahwa masker kain harus terdiri sejak setidaknya tiga lapisan bahan dengan berbeda.

Bicara protokol kesehatan COVID-19, zaman ini ada teknologi bernama Secure Accurate Facial Recognition (SAFR) 2. 0 untuk membantu perusahaan menghadapi new normal akibat pandemi Virus Corona.

Menurut situs Findbiometrics , SAFR merupakan teknologi pengenalan wajah ( facial recognition ) memakai kecerdasan buatan ( artificial intelligence /AI) yang sanggup mengetahui wajah seseorang yang menggunakan masker dengan akurasi tinggi.

Teknologi ini juga mampu mengenali wajah orang yang memakai topi, kacamata, dan bahkan karakter yang menggunakan hijab sekalipun. Peristiwa itu karena SAFR memiliki akurasi mencapai 99, 87 persen berdasarkan hasil tes oleh National Institute of Standard and Technology (NIST) pada Juli 2019.

Melihat hasil laporan NIST buat kategori Wild Faces itu, maka SAFR hanya membutuhkan waktu 100 milidetik saja untuk dapat mengenali paras seseorang dan hingga saat ini algortima pengenalan wajah SAFR merupakan yang tercepat di dunia.

“SAFR 2. 0 mampu membantu pemantauan petugas di lapangan menjadi lebih efisien dan produktif. Misalnya, jika tertangkap oleh kamera CCTV ada orang yang tidak menggunakan masker, maka SAFR dapat mengirim peringatan, ” kata Senior Director PT RealNetworks Indonesia, Ria Tanusendjaja.

Ia melanjutkan, informasi peringatan tersebut dapat dikirimkan mencuaikan berbagai macam media pesan instan saat ini seperti WhatsApp, Telegram ataupun media komunikasi sejenis.

Selain itu, ungkap Ria, SAFR juga bisa dimanfaatkan untuk pengurangan kontak fisik dalam membantu pencegahan penyebaran COVID-19, seperti pancaroba mesin absensi barbasis fingerprint secara pengenalan wajah, peralihan penggunakaan surat atau tombol pada pintu, beserta gate dengan menggunakan pengenalan wajah.

“Tidak hanya paras, SAFR dapat membantu pemantauan kepada objek manusia di dalam sepadan lokasi. Jika tedeteksi jumlah karakter yang terlalu banyak, maka SAFR mampu memberi peringatan atau mengirimkan informasi kepada petugas untuk melakukan pembatasan, ” jelasnya.